SITUASI USAHA DAN PELUANG USAHA DI INDONESIA
Di Indonesia, di awal abad ke 20 ini, kewiraswastaan/kewirausahaan baru
diterima oleh masyarakat sebagai salah satu alternatif dalam meniti karier dan
penghidupan. Seperti diketahui , umumnya rakyat Indonesia mempunyai latar
belakang pekerja pertanian yang baik. Dengan hidup dalam penjajahan selama 3,5
abad lamanya, nyaris tidak ada figur panutan dalam dunia kewirausahaan. Yang
ada hanya pola pemikiran feodalisme, priyayiisme serta elitisme, yang satu di
antara sekian banyak ciri-cirinya adalah mengagungkan status sosial sebagai
pegawai, terutama pegawai negeri (kontras dengan status leluhur sebagai petani)
Pada era Orde Baru, peran serta masyarakat swasta dilibatkan secara serius. Pengusaha kecil dibina, dengan harapan bisa berkembang menjadi tonggak tumpuan ekonomi di masa depan. Pengusaha besar diberi kemudahan, karena merekalah yang diharapkan mendukung pemerintah.
Sebagai negara berkembang, bisa dimengerti kalau terjadi berbagai penyimpangan. Dengan masyarakat yang berlatar belakang non-entrepreneur serta cenderung feodalis, masyarakat Indonesia tampak kurang siap di berbagai aspek. Wirausaha/wiraswasta yang serba cepat menyebabkan pengusaha Indonesia “kedodoran” pada segi-segi yang amat penting, diantaranya faktor sikap mental (attitude), motivasi, etos kerja serta kesadaran tentang pengabdian bangsan dan negara.
Pada era Orde Baru, peran serta masyarakat swasta dilibatkan secara serius. Pengusaha kecil dibina, dengan harapan bisa berkembang menjadi tonggak tumpuan ekonomi di masa depan. Pengusaha besar diberi kemudahan, karena merekalah yang diharapkan mendukung pemerintah.
Sebagai negara berkembang, bisa dimengerti kalau terjadi berbagai penyimpangan. Dengan masyarakat yang berlatar belakang non-entrepreneur serta cenderung feodalis, masyarakat Indonesia tampak kurang siap di berbagai aspek. Wirausaha/wiraswasta yang serba cepat menyebabkan pengusaha Indonesia “kedodoran” pada segi-segi yang amat penting, diantaranya faktor sikap mental (attitude), motivasi, etos kerja serta kesadaran tentang pengabdian bangsan dan negara.
Pola Dasar Wirausaha
Sosok wirausahawan yang ideal , menuntut nilai-nilai ke arah kualitas
manusia yang semapan mungkin. Kaitannya
dengan perpolitikan, mungkin selaras dengan dambaan hadirnya Manusia Indonesia
Seutuhnya. Maka dapat dikatakan bahwa
ilmu kewirausahaan/ kewiraswastaan adalah ilmu tentang penghidupan. Ilmu yang
akan membukakan pengertian tentang bagaimana seharusnya manusia meniti penghidupannya dan nilai-nilai
apa yang diperlukan untuk mencapai cita-cita hidup yang hakiki.
Untuk membina manusia menjadi makluk yang berguna, tidak cukup hanya
memberikan kecerdasan, ketrampilan atau kepiawaian teknis saja. Prioritas
mendasar adalah dengan membangun sikap mental yang baik terlebih dahulu.
Sebab, seperti pepatah mengatakan, ilmu tanpa sikap mental menghasilkan
kezaliman, sedangkan sikap mental tanpa ilmu adalah kelemahan. Dua aspek ini
harus hadir salling isi mengisi, karena jika terjadi absen pada salah satunya,
maka akan berdampak buruk.
Struktur prioritas kewiraswastaan terdiri dari 4
(empat) lapisan. Lapisan terdalam merupakan inti (core), sedangkan 3 lapisan berikutnya merupakan pendukung yang
ideal untuk mencapai kesempurnaan prestasi. Struktur ini berlaku universal,
tidak hanya bagi mereka yang berkarir dijalur wiraswasta. Para pejabat,
karyawan, buruh, kaum-kaum profesional, dan siapapun seyogyanya memiliki pola
dasar ini.
Struktur nilai kewiraswastaan dimaksud terdiri dari elemen-elemen :
1. Sikap Mental (attitude)
2. Kepemimpinan atau kepeloporan (leadership)
3. Ketatalaksanaan (management)
4. Keterampilan (skill)
Sikap mental
Sikap mental merupakan elemen paling dasar yang perlu dijamin untuk selalu
dalam keadaan baik. Unsur ini yang menentukan apakah seseorang menjadi sosok
yang tinggi budi ataukah seblikinya menjadi orang yang jahat dan culas. Itu
sebabnya pembinaan sikap mental menjadi unsur terpenting dalam dunia
kewirawastaan. Selain menghadirkan sifat-sifat baik alamiah seperti kejujuran
dan ketulusan, sikap mental mencakup juga segi-segi positif dalam hal motivasi
dan proaktivitas.
Orang yang bersikap mental baik akan selalu bekerja rajin tanpa harus
diperintah, dan konsisten tanpa harus diawasi. Mereka juga selalu berinisiatif
melakukan hal-hal positif dan selalu
mempunyai motivasi kuat serta semangat yang mengebu-gebu dalam mencapai
cita-cita.
Sikap mental juga amat menentukan keberhasilan seseorang. Harvard, sebuah
intitusi di Amerika menyatakan bahwa keberhasilan orang-orang sukses di dunia
ini, ternyata lebih banyak ditentukan oleh sikap mentalnya dibandingkan dengan
peranan kemampuan teknis yang dimiliki. Dengan angka perbandingan adalah 85%
sikap mental, 15 % kemampuan teknis.
Akan tetapi ironisnya, komposisi materi pendidikan yang diterapkan
disekolah-sekolah menunjukan perbandingan yang sebaliknya yaitu 90 % pelajaran
teknis dan 10% sikap mental. Sehingga pantaslah kalau banyak didapati manusia
yang berpikir negatif dibanding orang yang berpikir positif, antusias dan
percaya diri.
Kepemimpinan
Kepemimpinan yang dimaksud disini adalah kepemimpinan sebagai nilai atau
kualitas, bukan pengetahuan tentang manajemen sumber daya manusia. Mungkin akn
lebih tepat kalau disebut sebagai “kepeloporan” sedangkan pemimpin adalah orang
yang menunjukan arah. Seseorang yang memiliki jiwa kepemimpinan akan selalu
tahu arah yang harus dimbil. Keputusan-keputusanya mantap dan didasari oleh
keyakinan diri disertai data-data dan informasi yang akurat.
Dalam dunia usaha, jiwa kepemimpinan dan kepeloporan ini mutlak diperlukan
karena secara sadar atau tidak seseorang yang berwiraswasta telah menempatkan
dirinya pada posisi pemimpin. Kedudukan tersebut mengharuskannya untuk selalu mampu
mengambil keputusan yang menurut perhitungannya paling baik dan bijaksana.
Tidak boleh ada keraguan atau kebimbangan karena jika itu terjadi maka
keputusan yang diambil akan terlambat dan tidak efektif lagi. Dilain pihak,
pengusaha yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan akan condong mengikuti pendapat
dari figur yang dominan terhadap dirinya, sehingga pengusaha tersebut biasanya
sulit membawa perusahaannya kearah kemajuan yang berarti.
Pengusaha yang berpeluang maju secara mantap adalah pengusaha yang memiliki
jiwa kepemimpinan secara menonjol. Ciri-cirinya biasanya keputusan dan sepak
terjangnya
sering dianggap tidak lazim/tampil beda..
Tata Laksana
Tata laksana merupakan terjemahan dari kata management, artinya
pengelolaan. Manajemen bukan semata-mata konsumsi para manager di
perusahaan-perusahaan tetapi diperlukan semua orang. Tata laksana merupakan
metode atau serangkaian cara dan prosedur yang berguna untuk menghasilkan
efektivitas dan efisiensi setiap pekerjaan agar mendapat hasil yang baik dalam
mutu serta tepat waktu dalam penyerahannya.
Berbeda dengan sikap mental dan kepemimpinan yang termasuk dalam
klasifikasi nilai atau kualitas, maka manajemen merupakan pengetahuan bersifat
praktis. Kalau sikap mental berada di dalam (jiwa), manajemen terdapat di luar,
mirip keterampilan teknis atau keprigelan
Manajemen kegunaannya juga sangat universal, dan semua orang atau
organisasi memerlukan manajemen. Bila manajemen terabaikan, maka sebuah
organisasi akan menjadi kacau dan morat-marit. Perusahaan tanpa manajemen yang
baik, bias dipastikan akan mengalami hambatan besar dalam perkembangannya. Oleh
sebab itu, setiap orang yang ingin memulai usaha harus mewaspadai aspek tata
laksana sedini mungkin. Mulailah
kegiatan manajemen seketika pada saat
perusahaan baru saja dimulai, sekecil apapun ukurannya.
Keterampilan
Lapisan terluar dari struktur prioritas adalah keterampilan. Keterampilan
teknis yang meliputi keterampilan perorangan yang melibatkan ilmu pengetahuan
dan teknologi untuk memproduksi sesuatu, baik secara fisik dan non fisik termasuk keterampilan manajerial dan
keterampilan pemasaran jelas merupakan faktor yang amat penting, karena
disinilah nantinya kualitas produk ditentukan tinggi rendahnya.
Banyak pihak berpendapat bahwa dengan berbekal penguasaan keterampilan,
seseorang pasti bisa menjdi enterpreuneur (wiraswastawan) yang berhasil. Namun
demikian, kalau kita mau meneliti lebih jauh ternyata keberhasilan-keberhasilan
itu sebenarnya bukan disebabkan oleh keterampilan semata melainkan lebih oleh
jiwa kepemimpinan yang dimiliki si pengusaha. Keterampilan hanyalan sarana,
sehingga tidak cukup untuk mengantar orang ke jenjang kehidupan yang sukses,
terutama kehidupan dalam dunia usaha.
Ada tiga hal yang memungkinkan seseorang baik terampil maupun tidak, untuk
bisa tampil sebagai tokoh yang sukses atau orang berkecukupan, yaitu :
1. Memanfaatkan Leadership yang berasal dari diri sendiri
2. Memanfaatkan Leadership orang lain
3. Faktor keberuntungan (luck and hoki)
Semua disiplin ilmu tidak memperhitungkan adanya factor keberuntungan,
demikian juga dengan ilmu kewiraswastaan. Rata-rata orang besar dan tokoh
wiraswastaan sejati mengandalkan sepenuhnya pada jiwa kepeloporan yang dimiliki
oleh diri sendiri sehingga mencapai tingkat kemapanan.
Naluri Kewirausahaan
Setiap kegiatan yang mempunyai bobot persaingan, memerlukan ketajaman
naluri. Demikian juga dengan wiraswastaanpengusaha bersaing bukan hanya dengan
perusahaan-perusahaan pesaing, tetapi juga dengan keadaan dan situasi-situasi
tertentu seperti moneter, ekonomi, politik perubahan kebijakan pemerintah, dan
lain-lain. Untuk dapat mengantisipasi setiap perkembangan jyang mungkin
terjadi, seorang wiraswastaan perlu melatih naluri kewirausahaannya, agar
selalu siap menghadapi hal apapun dan tetap bertahan hidup.
Inti Wiraswasta
Fungsi manusia akan tumbuh sempurna bila pembinaan dilaksanakan menuruti 4
tahap prioritas yaitu sikap mental, kepemimpinan, tata laksana serta
keterampilan. Sebaliknya, ketidaksempurnaan dan kerusakan atau kehilangan dari
salah satu unsure tersebut, akan mengakibatkan hal-hal negative pada manusia
yang bersangkutan, bahkan bias fatal.
Empat lapis prioritas diatas sebenarnya dapat disederhanakan menjadi hanya
2 (dua) kelompok, karena pada dasaranya dua yang pertama dan dua yang terakhir
berasal dari rumpun yang sama. Pengelompokan itu terdiri dari :
1.
Kelompok Sikap Mental yang mencakup lapisan sikap
mental itu sendiri dan unsure kepemimpinan atau Leadership dan
2.
Kelompok Ilmu Pengetahuan, yang terdiri dari lapisan
manajemen dan keterampilan.






0 comments:
Post a Comment